Showing posts with label ajibnya hidup. Show all posts
Showing posts with label ajibnya hidup. Show all posts

Wednesday, 21 November 2012

Ketika Janin Menghujat

Seperti yang pernah gue ceritakan di postingan sebelumnya bahwa tahun lalu, gue pernah magang di salah satu puskesmas di Jogja. Baru seminggu pertama gue mulai magang, gue udah menemukan 1 pasien yang married by accident, dan 3 pasien yang menikah siri karena “tekdung” duluan. Dalam hal ini merupakan hal yang memilukan bagi para perempuan. Kebayang nggak sih dengan mudahnya mereka merelakan kesuciannya direnggut oleh seorang lelaki dengan tanpa ikatan suci pernikahan? Mereka bahkan berasal dari luar Jogja dan statusnya masih menjadi mahasiswa. Sejujurnya, yang gue perlu iba itu kepada orang tuanya. Mereka dengan susah payah kerja keras membanting tulang hanya untuk bisa membiayai anak-anaknya sekolah di luar kota, tetapi dengan tidak amanahnya, anak-anak mereka malah mengacaukan mimpi dan harapan orang tuanya. Kalo menurut gue sih, orang-orang macem itu, otaknya dikelilingi nafsu, dan di benaknya yang namanya kumpul kebo itu kayak tagline iklan “Mie Burung Dara”, enaknya nyambuunggg teruuuusss…

Di sisi lain, tindakan mereka dibayar setidaknya dengan tanggung jawab yang akhirnya mereka harus lakukan. Pada akhirnya, makhluk titipan Allah itu pun dipelihara dengan baik selama di rahim, nggak ada niatan dalam diri mereka untuk melakukan abortus provokatus criminalis (pengakhiran kehamilan sebelum usia 20 minggu yang berlangsung dengan tindakan sengaja/ bentuk kriminal). Hal tersebut di awal memang sangat nggak bisa dimaafkan, karena perbuatan zina yang mereka lakukan yang pada akhirnya membuahkan hasil sebuah makhluk titipan Allah yang nggak berdosa dan tak ternilai harganya, namun pada akhirnya, mereka yang bersedia merawat janin dalam rahimnya dan merawat hingga besar nanti dengan kasih sayang, itu bikin gue luluh juga. At least, berani bertindak, berani bertanggung jawab.

Hal semacam itu yang gue dapet di Indonesia sangat bertolak belakang dengan pengalaman yang gue dapatkan saat gue training dan internship di Taipei, R.O.C (Taiwan). Gue lebih miris lagi ketika mengetahui bahwa menghilangkan nyawa janin sama gampangnya dengan mengupas pepaya. Di Taiwan, nggak sedikit mereka, para perempuan yang mengalami hamil di luar nikah meminta bantuan dokter kandungan untuk melakukan aborsi. Karena memang rules-nya di sana amat sangat mudah, yang penting ada persetujuan dari pihak wanita dan pria, atau keluarga dari salah satu pihak untuk melakukan abortus provokatus criminalis. Kemudian setelahnya, dokter hanya mengatur waktu janjian pada pasiennya untuk membantu melakukan tindakan pengguguran kandungan tersebut. Hal tersebut legal, dan bukan hanya di klinik swasta saja, bahkan terkadang dokter di rumah sakit negeri pun bersedia membantu. Belum ada juga undang-undang yang mengatur tentang hal tersebut, karena hamil dan melahirkan adalah hak setiap orang yang nggak bisa diganggu gugat.

Selama gue di salah satu klinik swasta di Xinzhuang District, gue menemui 3 pasien yang ingin menggugurkan kandungannya. Bermacam alasan diutarakan oleh dokter kandungan di klinik tersebut:

Pasien pertama beralasan karena masih SMA dan belum siap untuk hamil dan melahirkan.
Pasien kedua sudah memiliki 2 anak, dan biaya pendidikan di Taiwan sangatlah mahal, maka pasien tersebut beserta suaminya merasa nggak sanggup untuk memiliki 1 tanggungan anak lagi, oleh karena itu aborsi adalah solusi utama.
Pasien ketiga ini yang punya alasan berbeda, walaupun sudah bersuami, tetapi dia belum siap untuk hamil dan melahirkan. Seperti yang telah diketahui, bahwa di Taiwan, ketika mereka memiliki anak, maka semua harus direncanakan dengan baik di awal dari mulai pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, jangan sampai anak tersebut lahir dan dibesarkan dengan kondisi yang buruk.

Pernah nggak sih, kalian berfikir gimana ya kalo janin bisa curhat? Gue pernah baca twit2 dari akun @WOWKonyol soal janin yang bisa ngomong dan protes ke orang tuanya. Maka, gue jadi pengen berimajinasi deh kalo mereka curhat pasti yang diomongin seputar hal-hal kayak di bawah ini:

Janin: “Mama, mungkinkah memang kehadiranku pasti akan membuatmu sedih? Aku bahkan baru hampir 5 minggu merasakan hangatnya tinggal di rahim Mama. Dan tahukah kau, Mama, bahwa jantungku bahkan sudah berfungsi dan mulai berdetak. Tetapi mengapa harus aku alami sakitnya dipaksa keluar dengan sendok kuretase yang sangat tajam itu? Jika memang rasa sakitku ini membuatmu bahagia, maka aku rela.”

Atau mungkin juga, mereka terlalu emosi dan curhatnya jadi kayak gini…
Janin: “Menyakiti aku sama dengan menyakiti alat reproduksimu sendiri, Ma. Hilangnya aku belum tentu suatu hari nanti Mama bisa punya anak lagi.”

Janin: “Ibu, awalnya aku berfikir Ibu adalah (i)nilah (b)idadarik(u). Tapi sekarang enggak lagi sejak Ibu berusaha dengan segala upaya mengeluarkanku dari rahimmu yang hangat. Bagiku saat ini, Ibu adalah (i)nilah (b)usuknya dirim(u).”

            Yang ini janin g4uL…
            Janin: “Nyawa gue mau dienyahkan?! Ciyus? Cungguh? Enelan? Miapah?”
         Dan sesungguhnya banyak lagi hujatan yang terucap dari bibir suci janin :(.
So, girls, nggak usah memulai kalo takut untuk mengakhiri. Dan kalo kalian emang nggak bisa tanggung jawab, maka jangan harap kalian akan menjadi dewasa. Ketika pertama kali “berhubungan” dan kemudian hasilya “positif”, maka Allah udah percaya bahwa kalian mampu merawat titipannya. Terus, masih ada lagi yang mau aborsi???


Thursday, 12 April 2012

Anomali "Kepercayaan" warga Taiwan

Agama itu merupakan hal yang paling mendasar dalam hidup manusia. tanpa pegangan agama, hidup bakal ngalor ngidul tanpa peraturan yang jelas, dan kacau balau.

tapi sepertinya teori tersebut sangat nggak berlaku di Taiwan, Republic of China. seperti yang kita tahu berdasarkan teori jaman sekolah di SD/SMP dulu, guru sejarah pernah bilang kan kalo China itu adalah negara komunis? nah saya luruskan dulu yang bengkok ya, China itu memang negara komunis, FYI Taiwan itu bukan China. Taiwan bukan bagian dari China, tapi China-lah yang bagian dari Taiwan (ini berdasarkan orang Taiwan yang bilang, tapi lain halnya kalo orang China yg bilang, mereka pasti bilang kalo Taiwan-lah bagian dari China). So, Taiwan bukan negara komunis ya.

Oke, back to the point ya, intinya di postingan blog gue kali ini, gue mau cerita soal agama mereka. Maaf banget loh ya, ini bukan SARA, cuma informasi aja :) dan gue sebut, hal ini adalah "anomali kepercayaan".

Pertama gue menginjakkan kaki di negara ini, jutaan pasang mata melihat ke arah gue dan 3 orang temen gue lainnya yang berjilbab dengan tatapan mata nanar namun excited. awalnya agak risih juga dianggap berbeda di antara mereka, dengan jilbab yang terpasang di kepala. namun pada akhirnya gue terbiasa dan bangga juga, jadi artis sebulan di negara orang :)).

di Taipei Hospital, gue menemukan hal-hal yang nggak terduga sebelumnya, tentang kepercayaan seseorang (baca: agama). banyak warga taiwan yang bingung dan random juga dengan agama yang mereka anut. agak disayangkan juga sih, mengingat Tuhan itu sudah menciptakan wajah yang elok rupawan untuk mereka namun, mereka pun bingung harus mengucapkan rasa syukur pada siapa.

Di salah satu Ward di Hospital ini, para nurse-nya bener2 excited sama agama yang gue anut, mereka want to know banget. bahkan, hari ini gue dan citra ngebawain Al Quran dan Mukena, dan dengan excitednya, mereka coba pake Mukena dan sumpah mereka cantik banget!!! dan ada satu hal yang actually beyond my understanding banget. mereka pengen punya Mukena dan Al Quran tersebut. mereka nitip buat beliin di Indonesia. Oh My God!!! gue sih oke2 aja, nggak ada masalah, tapi sebenernya agama mereka itu apa sih?

ketika gue menelusuri lebih jauh, mereka sendiri pun bingung dengan agamanya. ada seorang nurse, sebut saja Jov. Pada pertemuan pertama kami, dia pake anting2 dengan bentuk "Salib". otomatis, gue bisa mengambil kesimpulan bahwa agamanya adalah Katolik, atau Kristen. tapi, 2 hari kemudian gue nanya ke dia tentang apa agamanya, dan dia bilang bahwa dia buddhist. terus, dengan penasaran gue tanya lagi kenapa dia pake anting2 "Salib", kemudian dia bilang: "Saya pake anting2 itu karena bentuknya cantik, bagus, dan unik. dan kamu tau nggak kalo anak laki2 ku malah bilang kalo anting2ku kayak kuburan. nyeremin. padahal aku pake itu cuma buat aksesoris aja." Oalaaaaaaahhhhh..

ada lagi juga nih, nurse yang lain yang bingung ketika ditanyain agamanya. dia bilang: "Amitaba sancai-sancai" (artinya:buddhist), tapi beberapa menit kemudian, dia bilang: "Amen" (artinya:Katolik). loh, ini yang bener yang mana? dan saat itu juga aku stop untuk berfikir, dan mataku menatap bahagia liat dr.Cool yang jalan dengan tegak dan senyumnya yang charming 100%,di depan meeting room :).

selain nurse-nya, karyawannya pun juga demikian, seorang lelaki yang wajahnya legit menggigit dan menggoda iman serta pengkonsumsi babi dan wayne itu, juga demikian bingungnya dengan agama yang dianut. gue sih belum nanya secara 4 mata, 2 hati, 2 bibir, dan 1 jakun, tapi gue dikasih tau kak Aric yang udah nanya dia. FYI, gue kalo di depan lelaki legit tersebut agak susah ngomong, coz i have a crush on him. hahahahahahaaaa, jadi ya agak susah juga utk mengorek2 segala hal tentang lelaki tersebut. suatu saat ka Aric tanya ke dia, sebenernya apa sih agama lelaki legit itu, dan lelaki legit tersebut bilang kalo: "Saya percaya semua agama. buat dia semua agama itu baik." OMAIDIRRR!!! cowok kayak gini nih yang harus dihalalkan. hehe.

pada akhirnya aku nanya beberapa temen di sini, tentang mayoritas agama yang mereka anut. katanya memang mereka buddhist, dan taoisme (percaya leluhur2nya), dan bahkan banyak dari mereka yang hanya mengenakan aksesoris2 e.g.: Salib, dll, hanya sebagai aksesoris dan pelengkap, bukan sebagai tanda bahwa itulah agama mereka. dan jika memang dari mereka ada yang nggak pernah ibadah, karena bingung terhadap agamanya, maka ketika mereka meninggal nantinya, mereka bakal dikubur sesuai dengan adat istiadat nenek moyangnya.

unik, menggelitik, dan agak susah dicerna pada awalnya, namun, itulah keberagaman dan keliberalan agama di muka bumi Taiwan. susah dimengerti, namun harus dimengerti. akhirnya, balik lagi ke Ayat Al Quran: Lakum Dinukum Waliyadin, Agamamu agamamu, agamaku agamaku :)

Sunday, 26 February 2012

#barujadian , #lamajadian , #udahputus

-->
Lama banget yah, gue nggak aktif di dunia per-blogging-an. Eniwei, akhir-akhir ini, gue sring banget tidur di dini hari, jam tercepat gue tidur adalah jam setengah 1 malem. Gue lebih sering tidur di jam-jamnya orang sholat tahajud, jadi sebelum mama gue bangun buat sholat tahajud, bukannya ikutan sholat, gue malah keramas dulu, trus tidur dan pasti bangunnya jam setengah 6 sore, kemudian mulai tidur lagi sampe jam 9 pagi.

Beberapa malam yang lalu, tepatnya di dini hari, timeline twitter gue rame banget hashtag #barujadian, #lamajadian, n #udahputus. Spontan, gue terpancing untuk bikin hashtag sejenis. Baru sekali ngetwit soal #barujadian, udah ada beberapa aja followers gue yang mention: eciiieee, ajib #barujadian, dan mention aneh lainnya.

Di bawah ini adalah beberapa tingkah aneh yang sering dilakukan oleh para abege labil kalo #barujadian, #lamajadian dan atau #udahputus. Gue bikin singkat, hanya 140 karakter yang mungkin mewakili tingkah aneh mereka:

1.       “Aku panggil kamu adinda, yah” / “oke, kalo gitu aku panggil kamu kakanda, yah”. #barujadian #pilihnamapanggilan #panggilanalapemaintuturtinular

2.       “kamu dulu donk yang tutup telponnya.” / “kamu dulu donk, yank.” / “oke, kita tutup sama2 ya, 1..2..3” / ”aahh, kamu bo’ong ih, kamu blm tutup telponnya” #barujadian

3.       “kamu sakit flu, yank? Ayo ke ugd sekarang. Nanti tambah parah loh.” #barujadian / “lo sakit jiwa! Ayo ke grhasia!” #udahputus #bedatipis

4.       “lo dijemput sapa?” / “dijemput my hubby” #barujadian ; “lo dijemput sapa?” / “dijemput tukang ojek” #udahputus

5.       “Kamu jerawatan ihh, pasti sering mikirin aku yah?” #barujadian ; “lo jerawatan ihh, pasti jorok nggak pernah cuci muka” #lamajadian

6.       *di twitter* bio: (at) (nama pacar) (tanda lope2) #barujadian ; bio: (udah nggak ada nama pacar) (tanda sedih, susah move on) #baruputus

7.       1 menit sekali sms #barujadian ; 1 hari sekali sms #lamajadian ; 1 tahun sekali sms #udahputus. (sms nya pas hari lebaran, tradisi maap2an)

8.       …… dan bermacam adegan lucu lainnya. Diantara kalian pernah ngerasa kayak gitu nggak? Atau malah lebih ekstrim?

Monday, 3 October 2011

5 Komponen Penting Dalam Hidup a la Gita Ajib

"Hidup berawal dari mimpi, dan untuk meraih mimpi, butuh tekad dan nekat, so meaning to say that hidup adalah nekat!"
-quote by gita ajib-

Quote di atas udah sering gue terjemahkan dan aplikasikan ke dalam kehidupan nyata gue, selama 21 tahun kehidupan gue.


Di postingan gue malem ini, sambil menyeruput segarnya susu putih mulus a la angkringan modern, house of raminten, gue mau membuka mata dan pikiran kalian yang masih tertutup akan hal-hal absurd yang akan menghentikan langkah kalian menuju singgasana kekuasaan yang sesungguhnya. eaaaa, bahasa gue sok tinggi bener yeh, padahal gue sendiri nggak bisa menerjemahkan isi dari tulisan gue yang konon dapat membuat kalian terhanyut dalam samudra pacific. *opo toh?!*

Oke, semua berawal dari bulan April 2011, ketika gue masih pake baju putih biru, seragam kebesaran mahasiswi bidan diploma 3, sesaat setelah gue n temen-temen kelar ujian tulis setelah PK 3, WK 3 kampus gue, bu Umu ngasih pengumuman tentang "The 3rd International Student Nursing Forum in Khon Kaen Thailand". acara tersebut sebenernya khusus untuk mahasiswa keperawatan, tapi boleh juga mahasiswa kebidanan ikutan. Kampus bakal memberangkatkan mahasiswa secara gratis, syaratnya, hasil abstrak penelitian mahasiswa yang dikirim ke panitia penyelenggara di Khon Kaen University Thailand, lolos untuk mengikuti presentasi seminar hasil di sana.

Gretongan boookkk, sapa sih cyiiinnn hari gini yang nggak mau gretongan? makhluk di muka bumi ini termasuk para protozoa dan ciliata pun seharusnya menyadarinya bahwa gratisan itu menyenangkan. Untuk biaya hidup di Thailand-nya sih ditanggung sama panitia penyelenggara, yang bayar cuman biaya transportasi PP-nya dan paspornya. Nah, biaya transport itulah yang bakal dibiayain saam kampus, tapi cuman untuk 3 orang mahasiswa aja.

Sayangnya, nggak banyak yang tertarik sama kesempatan langka ini, nyatanya dari 200-an mahasiswa kebidanan, cuma gue, mbak ida, dan mergy aja yang berminat ngirim abstrak hasil penelitian KTI-nya. Prinsip gue sih iseng-iseng berhadiah, gue nggak bakal tahu apa yang akan terjadi nanti kalo gue nggak pernah mencoba, dan buat gue trial and error itu biasa dalam hidup, hanya bagaimana impuls syaraf dan mental seseorang aja yang menanggapinya. dan menurut gue lagi, nothing is impossible brooohhh...

Tanpa pikir apa yang akan terjadi pada Naruto di akhir cerita, gue, mbak ida, n mergy ngumpulin berkas-berkas abstrak dan bikin paspor. dalam waktu 2-3 minggu semua udah kelar. Tapi, hingga sebulan berlalu belum ada pengumuman lolos atau nggak-nya penelitian gue dan temen-temen. gue mulai ketar-ketir, kalo gue nggak lolos, mau nggak mau gue harus ikut ke Thailand, karena kampus udah nalangin tiket penerbangannya. dan biayanya kurang lebih 5 jt rupiah PP. mampus nggak tuh, dapet duit dari mana sebanyak itu? gue mulai galau, biasa lah penyakitnya para remaja ababil... yang ada di otak gue pada saat itu, gimana caranya ngedapetin duit sebanyak itu, bahkan "ayam jago berperut buncit bak busung lapar" alias celengan kesayanganku pun isinya nggak sampe setengah juta.

Singkat cerita, 2 hari sebelum hari keberangkatan ke Bangkok, ada kabar menyenangkan yang cukup menohok batin dengan amat mesra bahwa, gue, mbak ida, mergy wakil dari kebidanan lolos seleksi untuk presentasi hasil penelitian. untuk wakil dari keperawatan ada kak aric, mbak soko, kak jalul, kak andi, dan mbak irna. Alhamdu...lillahhhhhh....

Gue nggak nyangka juga akhirnya bisa bertemu dengan ratusan "she male" di sana, haha... yah hikmahnya, gue bisa dapet berbagai pengalaman baru, temen2 baru dari berbagai negara, dan juga bisa nyicipin makanan yang berbumbu campur baur bikin mawut nan semrawut...

Eniwei, gue cuman mau bilang satu hal "mimpi, tekad, nekat, usaha, dan doa itu komponen hidup dalam mencapai suatu cita-cita."

Semua itu bukan tidak mungkin, bahkan ketika lo pengen belajar di luar negeri sekalipun dengan tanpa modal duit, insya Allah akan terlaksana ketika lo punya 5 komponen tersebut dalam mind set lo. gue pun saat ini lagi dalam tahap tersebut dan semoga happily ever after.




Wednesday, 28 September 2011

Say no to: The JOJONES, Sp. KK

Assalammu'alaikum, cyiiinnnn... Hai, hai, para pembaca blog gue yang budiman, baik hati, ramah tamah, tidak sombong, rajin shadaqah., shadaqah di jamban tiap pagi... kayaknya hampir semingguan gue nggak ngeblog yah? gue sibuk, cyiiinn...sibuk treadmill untuk membentuk body gue biar mirip gitar spanyol. soalnya, akhir-akhir ini gue lebih mirip kayak sapi gelonggongan.



Nggak sih, sebenernya minggu-minggu ini gue sibuk ngurusin kuliah gue. Soalnya, gue emang lanjut kuliah D4 kebidanan, nyambi magang di puskesmas daerah mergangsan tuloh... lagipula, internet gue tuh ble'e-nya naudzubilleehhh... bayangkan jika lo ngenet dengan koneksi yang bikin lo ngeden terus menerus kayak orang bebelen, mata lo pasti bakal berkonde, dan bibir lo mungkin ketebelannya nambah 3 inchi, dan hidung lo bakal kembang kempis membabon buta. can you imagine that? ahh, i'm being a little overdramatic kok...

Oke deh, back to the main topic yah.. 2 minggu lalu, gue kebagian jaga sore sendirian dan kebetulan pasien inpartu-nya cuman 1 dan masih pembukaan 3, jadi ya lumayan nggak begitu rempong-rempong amat pada saat itu, jadi ber-MECUCU SAPI-lah (MElakukan CUrhat CUrhat SAmpe PIngsan) gue sama bu Sufi (bidan puskesmas). Beginilah cuplikan curhat gue:
bu sufi: "Udah berapa kali malem minggu nggak diapelin, Git?"
gue: "nggak dihitungin, Bu. saya lebih suka ngitungin duit di dompet, daripada ngitungin begituan, Bu. haha.."
bu sufi: "Belum punya cowok po kamu? mosok to?"
gue: "Cariin donk, Bu..."
bu sufi: "Halah, kamu kan gaul, masa nyari aja susah? cari yang dokter sana. kalo mau, yang co-ass tapi yang udah mau lulus, setidaknya yang tinggal nunggu internship aja."
gue: "saya orangnya rada pemilih, Bu. sebenernya ada beberapa yang suka sama saya, tapi saya ngerasa nggak nyaman sama mereka."
bu sufi: *senyum penuh makna* "mas co-ass banyak loh."
gue: "konkritnya yang mana bu?"

*kemudian hening*.................

***
 Oke then, berawal dari kengenesan dan kegalauan itulah THE JOJONES (Jomblo JOmblo ngeNES) terbentuk, sebuah komunitas untuk para jomblo ngenes pengikut paham AJIBISME.
Berikut profil singkatnya:
“THE JOJONES si TUNA KASTA (KASih dan cinTA)”
Hari yang paling dihindari: Saturday night.
Warna favorit: hitam dan pink. Hitam merupakan lambang dari kehororan, pink merupakan lambang keunyuan.
Makanan favorit: kebahagiaan dua sejoli yang menikmati malmingnya. *sadis to the max*
Cita-cita: menjadi dambaan calon mertua dan buronan lelaki/wanita high class.
Title: The Jojones, Sp.KK (spesialis kengenesan dan kegalauan)
Harapan: Terlepas secepatnya dari belenggu dan title The Jojones, Sp.KK.

That’s the profile. Anyone who wanna join? Saran gue, kalo mau gabung jangan kelamaan, bisa nyesek dan jadi lumutan! Cukup beberapa minggu dan segeralah cari pasangan yang bikin kalian nyaman... perbanyaklah ibadah, dan belajarlah dengan sungguh sungguh, serta makanlah sossis so nice untuk meraih cita-cita kalian! lho?! *bukan blog berbayar*

Saturday, 24 September 2011

AJIB-NYA HOTEL BINTANG TOEDJOEH

Hari ini gue banyak nulis di blog yah, ahaaaaa, sebenernya keinginan menulis gue hari ini cukup membuncah hingga hampir meletus dan mengeluarkan biogas yang harum namanya, melebihi harumnya bunga raflesia arnoldi yang elok rupawan...

Eniwei, semalem ngobrol sama papa, beliau nyeritain dulu pas ada tugas kantor, nginep di hotel bintang 5, yang beliau nggak tahu kalo ada 2 jenis air di toilet, air panas sama air dingin, dan alhasil, kulit papa gue sempet melepuh... berdasarkan pengalaman konyol papa gue, gue juga pengen berbagi kisah bulan mei lalu waktu ke Bangkok (presentasi hasil penelitian internasional).. let's cekidotttt, broooohh...

***


Pas di Bangkok, gue sama temen-temen lainnya nginep di salah satu hotel berlabel muslim dan halal. Gue nggak bisa baca nama hotelnya. Gue rasa ini hotel bintang toedjoe.
Karna hotel muslim, jadi nggak heran kalo semua karyawan cewenya pake jilbab dengan wajah metal, alias melayu total. Mas-masnya juga pandai cakap melayu. Ya mereka itu TKI-nya Malaysia. Jauh lebih dimanusiakan daripada the real TKI ya?
Yak ketololan dan kedodolan gue mulai kambuh dengan biadabnya. Nggak kebayang kalo kamar hotelnya se-waow ini. Dulu-dulu juga pernah nginep di hotel waktu berkali-kali jadi backpacker, tapi biasanya tetep aja di toilet tersedia gayung. Lha di sini nggak ada gayung, semuanya American standard.
Sekian lama “nggumun”, akhirnya nyadar juga ini kenapa kamarnya panas banget, mana lampunya mati semua. Saklar lampu udah berkali-kali dihidupin diceklak-ceklek loh kok nggak nyala-nyala? Remote AC-nya juga di-on nggak hidup-hidup. Kalo dengan keadaan seperti ini apa yang anda bayangkan? Listrik mati donk ya? Tapi masa hotel bintang toedjoe gini nggak ada genset sih?
Trus gue buka pintu, kali aja kamar depan sama sebelah juga merasakan hal yang sama. Tapi… taraaaaa, lampu mereka hidup, Sodara-sodara! Tidakkah anda merasa shock dan seperti perlakuan yang agak diskriminatif jika mendapatkan hal yang demikian ini terjadi di kehidupan anda?
Trus dengan keberanian diri yang menggunung dan hampir meletus, gue tanya ke orang Arab sebelah kamar gue yang lagi jalan di lorong (sebenernya mau sok-sok pedekate aja gitu), sementara si Mergy nanya penghuni depan kamar…

Gue: “ehm, sorry if I’ve disturb you. Just now I’ve tried repetedly to turn on the lights and air conditioning, but the result was...hopeless. Is there any possibility of electrical short-circuit it? Could you help me to turn it on?”
Mas-mas Arab: *tatapan sinis-sinis campur cengo* “Have you insert the card into the flat box-shaped device mounted beside the door?”
Gue: “oh yeah, I haven’t insert the card.”
Mas-mas Arab: Hahahaha *ketawa puas bagai harimau yang mau menerkam mangsanya* “Yeah, do it now, and the electrical room will be turn on.”
Gue: “Oh yeah, thanks for your help.”
Mas-mas Arab: “Anyway, do you come from Indonesia?”
Gue: “Yes I do. Umm, sorry, not everyone in Indonesia plebeian like me. So, take it easy guys.” *ngacir mlipir*

Jadi ternyata, cara nyalain lampu, AC, tivi, kulkas de el el itu pake kartu yang dikasih sama petugas hotelnya pas di meja resepsionis tadi. Jadi, kartunya itu dimasukin ke alat yang nempel di tembok deket pintu, trus secara otomatis semuanya nyala dengan riang gembira. Sumpah, itu si Arab inget muka gue nggak ya, malu banget nih, berkali-kali memperlihatkan kedodolan sendiri di negeri orang.
Untung pas kejadian ini Sri Sultan Hamengkubuwono nggak liat, coba kalo beliau liat warganya senorak dan sekampungan gue, pasti gue udah ditendang sampe Zimbabwe. Bahkan kalo gue udah nyampe di negara itu, gue pasti juga bakal dideportasi lagi ke Indonesia, nyampe Indonesia pasti gue digiring ke Guantanamo Bay, dan akhirnya gue bergumul bareng sapi-sapi perah di sana, trus jangan-jangan gue bakal jadi the next sapi gelonggongan, ooo tidaaaaakkkk!!!

Pesan moral a la ajib: Malu bertanya sesat di jalan, banyak bertanya menyebabkan kemaluan anda bertambah besar. Lho?!