Showing posts with label Ajibnya curhat. Show all posts
Showing posts with label Ajibnya curhat. Show all posts

Tuesday, 7 February 2012

A LOVE LETTER FOR "YOU"


Hujan mulai jatuh membasahi bumi secara berjamaah di malam ini. Secangkir susu jahe hangat mampu menangkal dinginnya malam. Entah mengapa, tetapi impuls otak gue tiba-tiba menghantarkan gue untuk duduk di teras, memandang rintik hujan yang seolah memiliki ikatan batin kuat dengan hati gue, yah hati gue yang mulai galau pada malam itu. Gue ingin galau gue lebih berkualitas sehingga dapat menghasilkan sebuah kata move on yang akan berlanjut menjadi sebuah tindakan untuk keluar dari labirin galau yang menyiksa. Tsaaaahhh.. entah kenapa tapi, kalimat gue terkesan najis menye-menye banget ya? Kalimat yang secara coming soon bakal gue tulis setelah paragraph ini pun akan terdengar agak jijai bajai, bahkan bisa bikin otak gue geser ke selangkangan. Haha, padahal nggak gitu-gitu juga sih.. hanya saja gue jarang banget nulis sesuatu seserius ini. tsaaahhh...
Eniwei, gue pernah berucap bahwa “hujan adalah pembawa pesan terbaik. Pesan rindu, pesan galau, maupun pesan amarah, semua mampu dipahami dan disampaikan oleh rintik hujan”. Maka cobalah untuk berbicara pada hujan. Saat hujan kali ini pun, gue sedang mencoba untuk menulis sebuah pesan untuk calon pendamping hidup yang entah belum gue ketahui sosoknya. Dari surat ini, kusampaikan segala pesan gue kepada Allah, Tuhan Seru Semesta Alam, melalui hujan, karunia yang Dia ciptakan untuk menyapa bumi di malam ini. aseekk..
gue dengan niat yang membabi buta dan menganjing kencing, menulis surat ini. mari kita samakan persepsi. surat ini aku tulis buat seorang cowok tulen, bukan cewe lho ya. bukan juga sosok cowok gay kayak Som anak BCN Udonthani Thailand yang pernah gue ceritain di twitter. bukan juga kambing etawa belakang rumah yang lagi makan rumput bertelanjang dada dan paha...
sekletep, tarakdungces...
SURAT CINTA UNTUK “KAMU”
Saat gue menulis surat ini, di hadapan gue terlihat sebuah bendera yang berkibar syahdu di tiang bendera, namun gue nggak tahu siapa yang sedang berkibar di hati gue dan gue pun nggak tahu siapa yang berkibar di hati KAMU.
Saat gue menulis surat ini, terbayang keras di otak gue bahwa gue adalah makmum, dan KAMU adalah imam gue. Imam hidup yang akan selalu mendampingi gue hingga kapanpun.
Pada saatnya ketika kita ketemu nanti, gue nggak butuh seribu mawar seperti yang diberikan marwan di iklan XL. KAMU cukup kasih gue setangkai cinta yang berisi berjuta perhatian serta kasih sayang, yang tak kunjung padam hingga kapanpun.
KAMU, KAMU, KAMU, selalu KAMU yang gue harapkan dapat merepresentasikan sebuah kesempurnaan. Gue tahu, nggak ada yang Sempurna kecuali Allah, tapi setidaknya KAMU adalah sosok sempurna di mata gue.
Buat gue Dewa 19 itu nggak ada sepanjang jaman, yang ada hanyalah DEWA itu KAMU!
Buat KAMU, yang gue belum tahu siapa, gue harap ketika kita bersama nanti, cinta kita ibarat rambut. Walaupun dipangkas habis, akan selalu tumbuh.
Buat KAMU, yang gue belum tahu siapa, ketika gue ketemu KAMU nanti, gue pengen bilang “Taj Mahal memang salah satu keajaiban dunia, tapi KAMU adalah keajaiban dalam hatiku dan hidupku”.
Gue pengen, ketika gue berada di samping KAMU, jantung gue berdetak bukan DAG DIG DUG, tapi:
ALLAH, ALLAH, ALLAH, sungguh MULIAnya ENGKAU menciptakan MAKHLUK TERINDAH seperti kamu.
ALLAH, ALLAH, ALLAH, sungguh MULIAnya ENGKAU menciptakan MAKHLUK TERINDAH seperti kamu.
ALLAH, ALLAH, ALLAH, sungguh MULIAnya ENGKAU menciptakan MAKHLUK TERINDAH seperti kamu.
Buat KAMU, yang ehm, calon pendamping hidup gue nantinya, bantulah gue untuk senantiasa bisa selalu ada di jalan Allah, senantiasa dapat mengingat Allah kapanpun, hingga setiap nafas yang gue hirup dan hembuskan hanya ada satu nama yang gue sebut, yaitu Allah, hanya Allah. Buat KAMU yang entah gue belum tau sosok KAMU, bimbinglah gue.
Buat KAMU, yang mungkin ada di sekitar gue,  kita hanya terpisah waktu, dan ketika Allah sudah menentukan kapan waktu kita bertemu, maka gue harap gue akan selalu berzikir, mengucap SUBHANALLAH, indahnya ciptaanMU ini Ya RABB..
Ya Allah, jagalah dia untukku, hingga saatnya nanti Kau pertemukan kami. Ya Allah, berikanlah jodoh yang terbaik untukku. Jagalah pula diriku untuknya… bantulah dia untuk dapat membimbingku nanti…
amin.

Sunday, 15 January 2012

BALADA KEGALAUAN SATNITE (baca:SADNITE) DAN KETEMU POCONGGG

Seperti yang udah pernah gue katakan di postingan blog gue sebelumnya bahwa biasanya kalo malem minggu, gue selalu dikasih jadwal jaga malem di puskesmas mergangsan, dan tiap kali gue ada masalah, di puskesmas Mergangsanlah gue bisa melupakan masalah tersebut. Berbagai kegiatan yang berhubungan dengan asuhan kebidanan pada pasien, bikin gue lupa akan masalah yang gue miliki. tapi sejak tanggal 31 desember itu tiap satnite gue nggak jaga malem lagi, dan “satnite” gue berubah jadi “sadnite”.

Eaaa, penggalauan berjamaah pun dimulai…

To tell the truth, so difficult to say that I’m jomblo. Gini aja deh, mulai sekarang kita ubah mind set kita tentang ‘jomblo’, dengan mengganti kata ‘jomblo’ dengan ‘LDR’. Soalnya seolah-olah orang itu menganggap status jomblo adalah status hina dunia wal akhirat. FYI, LDR gue singkat dengan Long Dimension Relationship. Inget ya, bukan Distance tapi Dimension. Kenapa “dimension”? Ya karena buat orang-orang yang belum punya pacar pada saat ini, cuma terhalang oleh dimensi aja, dimensi waktu. Ya ibaratnya, gue ada di masa kini, cowok gue sedang menanti di masa datang. Kalo “distance” kan jelas, pacarannya terhalang jarak, nah kalo “dimension” kan jelas gak terhalang jarak tapi terhalang dimensi waktu. Bisa jadi orang terdekat saat ini bisa jadi pacar kita.

eunggg kita samakan persepsi aja yah, bagi lo yang nggak setuju pacaran sebelum nikah, lo bisa ngubah mind set lo bahwa kata-kata “pacar” di sini adalah pacaran setelah nikah. Dan nggak masalah kan buat lo yang setuju-setuju aja gue tulis kata “pacar” di sini? Oke, deal ya?

Buat gue setiap orang kadar galaunya beda-beda. Karena nggak semua orang punya masalah yang sama, dan nggak semua orang pun punya status relationship yang sama. Kalo lo nanya, ada berapa kadar galau gue, jujur gue katakan, kadar galau gue cuma 5 % sesuai dengan taraf signifikan, sisanya p-value nya sebanyak 95% saja. Logikanya, probabilitas atau kemungkinan galau gue adalah 95%, jadi gue lebih banyak angka mungkin galau-nya. Angka yang cukup dan bisa dibilang fantastis. Haha.

Galau itu nggak melulu karena nggak punya pacar, digantung pacar, putus sama pacar, diduain pacar, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan asmara. Galau itu bisa juga hadir oleh karena masalah keluarga, pertemanan, keuangan, atau bisa jadi masalah di sekolah.

dan kalo galau, gue nggak pernah memutuskan untuk ke kamar mandi, buat mandi, nangis sambil showeran, kayak di sinetron tivi atau kayak film AADC ituloh si temennya Cinta, tau kan? yang sampe ngiris venanya, di bawah shower usaha bunuh diri karena galau. gue sih parno aja gitu kalo galau, trus mandi di kamar mandi, sambil showeran. gue parno sama cicak yang nontonin gue. kebayang nggak sih lo? gue lagi bugil sambil nangis dan dengan santainya ada cicak lagi nontonin gue sambil berkata dalam hatinya, "semoga anak cucu keturunanku nggak ada yang lebay selebay makhluk sexy yang ada di hadapanku ini".

dan yang paling asyik itu, ketika hujan. buat gue, hujan adalah background tepat di kala galau hadir. seolah, hujan itu adalah pengirim pesan terbaik untuk menyampaikan rindu pada seseorang, atau hanya untuk sekedar pendengar setia ketika kita curhat di kala hati ini galau yang bukan melulu karena masalah cinta.

eniwei, kalo ngomongin soal galau, gue selalu keinget sama @poconggg. Lo tau kan account @poconggg di twitter yang memproklamirkan diri sebagai penulis tanpa tangan di bio-nya? Yak, pemiliknya si Arief Muhammad adalah penulis favorite kedua gue. Yang pertama tentu aja @radityadika . @poconggg adalah merupakan salah satu penulis yang terkenal berkat keisengannya nulis-nulis di blog dan twitter. 

Tanggal 3 januari kemaren, Arief “poconggg” ngadain talkshow bukunya di acara Grebeg Buku Jogja di Gedung Mandalabhakti Wanitatama. Gue yang udah berstatus sebagai bidan, yang bukan remaja ababil lagi, tetep aja rela-relain ngantri buat dapet tandatangan dan bisa foto bareng dia. Dan FYI, gue kesana bareng temen gue, winda “bundo” yang juga adalah bidan.

Yang gue takjub banget, sepertinya gue merasa bahwa gue adalah makhluk tertua di sini. Kebayang nggak sih lo ada di antara abege-abege berusia belasan yang masih berseragam putih – biru, putih – abu2, bahkan ada juga yang masih SD. Mereka para ababil itu teriak-teriak gini: “Ariiiipppp, lo ganteng banget sih? Poto bareng donk!!” atau ada lagi “Ariiipppp lo putih banget ternyata, senyum lo bikin galau!” atau ada juga yang bilang “Ariiippp, jomblo ngenes itu gue banget! Kita sama Riippp!!!”

Gue nggak ngebayangin, mereka pulang sekolah, masih pake baju seragam, langsung meluncur ke wanitatama cuma buat ketemu @poconggg si arief jomblo ngenes! Mereka nggak ditanyain orang tuanya ya?

 tuh dia gambar ratusan bocah sekolahan ngantri buat ndapetin tandatangannya poconggg


 kalo ini foto mesra gue bareng arief. haha

 gue, arief, winda bundo


 kalo yang ini foto bareng @kintisimilikiti, penulis juga.. dan gue rasa, baju kuntilanak lebih sopan daripada baju cewe2 abege jaman sekarang.. nggak menonjolkan lekuk tubuhnya lho si kuntilanak ini..

SAYONARA PUSKESMAS MERGANGSAN :(

Per 31 desember 2011 silam, gue udah nggak magang di puskesmas mergangsan lagi. Ya walaupun cuma 4 bulan gue magang di sana, dari sebelum wisuda, gue udah merasakan kenyamanan di sana. Gue sedih ketika kontrak gue udah habis, gue nangis ketuban dan hampir mimisan sebaskom. Gue masuk ruang VK dan gue showeran air klorin, dan luluran mekonium. *lebay,gak usah percaya*

Pada saat gue berencana dan berniat untuk perpanjang kontrak, gue dihadapkan dengan kata-kata yang agak nggak enak didenger dari seorang pegawai (bapak-bapak) di sana, “Lho kamu kan kontraknya dari awal cuma 3 bulan, ini aja udah saya kasih injury time 1 bulan. Ya kalo kamu mau perpanjang sih boleh-boleh aja, tapi ngantri banyak banget. Tuh ada setumpuk yang mau magang di sini. Ya kasih kesempatanlah buat temen-temen lain yang mau magang juga. Kamu udah dapet banyak pengalaman kan di sini? Kalo kamu mau, bulan februari dapet jatahnya, tapi saya juga nggak yakin, soalnya ada juga yang mau masuk februari.” Berdasarkan kata-kata bapak itu yang panjang dan cenderung mbulet, yang nggak pasti juga, ya UAS aja deh, Udah Akhiri Saja.

Buat gue, puskesmas mergangsan memberikan kesan tersendiri. Karena di sini, gue belajar banyak yang nggak gue peroleh dari jaman praktek klinik selama kuliah. Di sini gue temukan beragam pasien yang gue anggap sebagai guru gue. Coba bayangkan mana ada pasien yang mau perineumnya dijahit oleh bidan kacangan yang baru lulus 3 minggu yang lalu? Dan gue njahit secara keseluruhan! Ternyata di sini ada, mereka memberikan kepercayaan buat gue untuk belajar. Karena mereka, gue bisa belajar banyak di sana.

Dokter residen obsgyn di sana pun menyenangkan. Masing-masing dokter memberikan kesan beragam yang nggak akan terlupa di ingatan. Dari mulai yang cakep, yang jelek ngaku cakep, yang pinter, sampe yang judesnya mirip mak lampir beranak di jamban pun ada. Oke, now I’m going to say thank you to dr. Dito, dr. Rosa, dr. Dhana, dr. Ari, dr. Lili, dr. Fahmi, dr. Herlina, dr. Tedjo, dr. Luga. (yang nggak gue sebut namanya, berarti merekalah yang ‘jelek ngaku cakep’, atau yang ‘judes mirip mak lampir beranak di jamban’). Terimakasih untuk bimbingan dan ilmu yang diberikan untuk saya dan teman-teman. Semoga sukses di kemudian hari.

Yang jelas dari semua yang membimbing, ngasih masukan, saran, dan kritik, ya Bidan-bidan Mergangsan lah yang berperan. Di awal gue magang, gue berencana bahwa mergangsanlah tempat latihan gue untuk persiapan uji kompetensi. Dan nyatanya memang bener, bidan-bidan mergangsan berperan banget membantu gue untuk bisa lolos uji kompetensi. Nggak hanya itu, peran untuk membimbing pun nyata terlihat, dari yang awalnya gue nggak terlatih untuk nolong persalinan, untuk haecting, untuk ngasih asuhan kebidanan, sampe akhirnya gue rasa gue cukup mampu untuk melakukan itu. Ya walaupun gue sadari banyak hal yang belum bisa gue lakukan, tapi setidaknya gue sedang dalam tahap berusaha. Mereka memberikan kepercayaan ke gue dalam pengambilan keputusan klinik, walaupun memang tidak sepenuhnya, tapi gue belajar bertanggung jawab atas itu semua.

Pada akhir magang, gue merasakan ketidaknyamanan oleh karena suatu hal, tapi di luar semua itu, I wanna say I love you my big mommas! The best midwives ever! The friendly – midwives ever! Bu Rini, Bu Puji, Bu Sufi, Bu Yam, Bu Sumiyati, Bu Nunung, Bu Dwi, Bu Yuni, Bu Sumilah, Mbak Sherly. Terimakasih atas semuanyaaaaaaa




Saturday, 8 October 2011

Curhat Interuptus: Antara Pencitraan dan Hak Saya


Actually, gue nulis postingan ini dalam 2 waktu yang berbeda. kemarin malem, dan siang ini. terpaksa interuptus, alias terputus, karena gue jaga malam sambil ngelus-ngelus dan observasi inpartu, dan gue sempatin ngeblog dengan nafsu yang super duper membludak maksimal. FYI, gue nulis postingan kali ini dengan perasaan yang terkatung gelisah gelombang menderai, dan buliran keringat segede upil sapi yang mengucur deras. Entah ya, akhir-akhir ini gue merasakan hidup yang penuh cobaan menjadi seorang mahasiswi D4, yang konon, ultimate goal dari pendidikan D4 adalah menjadi seorang dosen atau pendidik bidan yang harus bisa jadi role model mahasiswanya dan orang-orang di sekelilingnya. Dengan kata lain, calon pedidik bidan itu berat di pencitraan.

Dan lo tau nggak, kalo menurut gue dan yang ada di bayangan gue saat ini adalah bentukan sikap serta perilaku yang harus dimiliki oleh seorang dosen yang nggak think borderless, selalu kaku menghadapi mahasiswa dan pretend to be the other people who ‘sok’ wise. Jujur, gue nggak mau seperti itu, kalaupun memang tuntutan dosen adalah menjadi uswatun khasanah, gue akan melaksanakan semuanya dengan let it the flow dan biarkan semua terbentuk dengan perlahan yang nggak langsung berubah sedemikian dahsyat hingga 180 derajat, yang bakal bikin orang-orang pangling cenderung menolak sikap tersebut mentah-mentah, karena adanya unsur perubahan secara instan. Yah bisa dianalogikan juga dengan artis-artis youtube yang terkenal secara instan, beritanya pun santer terdengar, dan sangat bombastis menguak sisi lain kehidupan mereka, hingga akhirnya hanya bisa bertahan beberapa bulan saja. Gue nggak mau seperti itu!

Kadang gue berpikir apa yang salah dengan gue, sehingga ada beberapa dosen dan temen-temen yang nyatanya dengan terang-terangan ngomong di depan gue, menolak gue menjadi calon ‘gurunya guru’ ataupun ‘pendidik bidan’? Gue menyadari semua kekurangan yang gue miliki, gue memang baru lulus D3 20 Agustus kemarin yang bisa dipastikan pengalaman klinik gue nggak begitu banyak, tapi gue perlahan berusaha untuk mengatasi hal tersebut, gue berusaha untuk cari pengalaman alias magang di Puskesmas Mergangsan sejak sebelum gue lulus D3. Gue juga menyadari penampilan luar gue belum seorang calon dosen banget. Gue sadar dan gue akan berusaha untuk berubah perlahan, I promise!

Setiap orang yang tahu gue, pasti berpikir kalo gue adalah sosok yang lebay, acak adul, nggak bisa serius, hobi guyon. Gue nggak memungkiri itu, iya, gue adalah sosok orang yang memiliki karakter seperti itu. Tapi please, support dan dukungan itu gue butuhkan banget untuk saat ini, bukan cemoohan ataupun sindiran tajam yang menohok hingga dapat menyebabkan usus terburai dan pelebaran pembuluh vena.
Setiap anak pasti memiliki impian dan cita-cita untuk membahagiakan orang tuanya sehingga suatu saat dapat melihat senyuman indah di wajah ayah dan ibunya. Gue termasuk ke dalam golongan ‘anak’ itu. Dan gue berharap, jalan yang gue tempuh saat ini, (ketika gue sudah menyandang gelar ‘bidan’, dan ketika gue sedang menjalani kulia D4 untuk menjadi seorang pendidik bidan) akan membawa gue pada satu titik kebahagiaan dan kesuksesan hidup.

So meaning to say, gue punya hak secara utuh untuk membahagiakan Mama dan Papa, serta gue pun punya hak untuk menjadi orang sukses. Karena SUKSES ADALAH HAK SAYA! Dan ketika gue sudah mencapai kesuksesan tersebut, maka MEMPERTAHANKAN KESUKSESAN ADALAH HAK SAYA!

Saturday, 24 September 2011

A PIBO HUNTER (Pemburu PIBO, PIpi BOlong)

Ini kisah nyata gue tentang berburu Afgan, waktu semester 3 pas masih kuliah di D3 kebidanan.. sekedar sharing dan mau nostalgila ajah..

***

            Artis idola gue dari jaman SMA kelas 3 dulu tuh si pipi bolong, Afgan. Semua setuju donk ya, kalo dia tuh ganteng n suaranya pun bikin gak, gak, gak kuat…Berdasarkan beberapa alasan tersebutlah gue pengen masuk fanbase-nya afgan, namanya afganisme, biar bisa ketemu tatap muka langsung sama si afgan. 
            Adek tingkat gue, si Hasanah, dia juga freak banget tuh sama yang namanya si pibo alias pipi bolong (baca:Afgan), berawal dari kesamaan itulah gue sama dia usaha cari fanbase-nya afganisme, dan taraaaaaa ketemulah itu Afganisme Jogja.
Berkat kegigihan kami, akhirnya bisa juga masuk afganisme jogja dengan misi: ketemu afgan dan bisa grepeh-grepeh afgan, bahkan meng-insepsi mimpinya kayak Leonardo de caprio. Could it be? Ok cekidot, Gan!
3x afgan ke jogja setelah gue masuk afganisme jogja, tapi tetep aja nggak bisa foto bareng berdua doank, pasti berame-rame. Pernah juga sih waktu itu hasrat gue terpenuhi buat melakukan adegan towal-towel pipinya afgan. Gue sih pengennya nggak cuma towal-towel, tapi bisa cipika-cipiki, tapi sumpah, gue udah nggak kuat, itu lutut gue berasa gemeteran. Lagian Afgan kan bukan mahram gue, haram hukumnya sentuh sana sini. Haha.
Eniwei, today is Sunday and I always think that Sunday is a mixture of really enjoyable laziness and total and utter boredom. Tapi pernyataan di atas nggak berlaku untuk Minggu ini. Soalnya semalem Afgan manggung di Amplaz, dan Minggu pagi rencana dia balik Jakarta jam 6an, begitu kata road managernya. Kisah berburu Afgan pun dimulai lagi hari ini. Gue, hasanah, dan 5 afganisme lainnya akhirnya pagi-pagi buta, habis subuhan gitu nyusul si afgan ke airport.
Akhirnya dengan kekuatan 7 dewa ular naga dan 5 dewi ular putih, gue sama hasanah boncengan capcus ke airport, udah nyampe airport, kata Nisa si afgan masih di hotel, trus kata road manajernya kita disuruh nyusul ke hotel aja. Nyampe hotel, ketemu sama road manajernya, katanya suruh tunggu di lobby belakang. Akhirnya gue sama 6 afganisme lainnya nungguin di deket ballroom hotel, depan kita persis ada lift.
Sebelum ketemu sama afgan, banyak artis sliwar-sliwer. Gue mah nggak peduli, pikiran gue cuma itu si afgan kapan nongol dari lift?
Yak, beberapa jam kemudian, akhirnya road manajernya afgan keluar dari lift disusul afgan pake kacamata item, udah kayak tukang pijit berijasah aja itu si afgan kalo pake kacamata ini.
“Kalian gue kasih waktu 30 menit buat ngobrol sama afgan, masing-masing boleh foto sama afgan sebanyak 2x. Jangan heboh, jangan rebut”, ujar Road Managernya Afgan.
Gilak, inilah kesempatan perak, perunggu, bahkan emas untuk bisa ngobrol sama si afgan!!! Hey, nggak kebayang banget ini gue bisa ngeliat dan ngobrol bareng afgan dengan jarak 5 inchi. Omaidirrrr, jantungku kayak dibombardir sekutu. Kebayang nggak sih, tatapannya Afgan itu bikin tremor, dan senyumnya bikin apneu (henti nafas). 
Hasrat gue udah nyampe ubun-ubun ini bentar lagi meledak, oke dengan kekuatan bulan dari tuxedo bertopeng akhirnya gue bisa cipika-cipiki sama si afgan, foto berdua, dan towal-towel pipi bolongnya afgan.

Ini dia poto gue bareng afgan.. bukan rekayasa, bisa dibuktikan oleh pakar telematika, mekanika, atau metafisika, bahkan ki joko bodo sekalipun mungkin bisa membantu anda mengungkap keaslian dibalik foto kemesraan 2 insan di bawah ini :) 

Pesan moral a la ajib: nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, termasuk masukin koin di pipi bolongnya afgan yang kayak celengan ;)

Wednesday, 21 September 2011

Ospek Bikin Otak LepekOspek Bikin Otak Lepek

Postingan gue kali ini mau "mecucu samari", melakukan curhat curhat sampe mati suri...

3 tahun yang lalu, sebagai maba yang baik hati ramah tamah tidak sombong rajin shadaqah, shadaqah di wc tiap 2 hari sekali, dengan polos dan senang hati rela menghadiri prosesi pengenalan kampus alias ospek...

Tahun ini, gue ngambil D4 kebidanan pendidik dan wajib buat ngikutin ospek lagi. Tak terkecuali buat mahasiswa transfer dari D3 kebidanan (dari kampus yang sama) kayak gue gini... Ya menurut gue, hal ini awkward moment banget. Ketika 2 tahun yang lalu, gue ngospekin mereka, dan sekarang gue diospek mereka..

Kebayang ga sih, 3 tahun yang lalu, lo udah diospek dan lo harus ikutan ospek untuk yang kedua kalinya karna kebijakan kampus yang, ehm, rada kacau. Can u imagine that, sodara2?!

Awalnya sih gue ga niat sama sekali, tapi mulai hari kedua, gue pasrah lah mau diapain juga.. Toh penugasan yang diberikan cuma bikin artikel doank.. Freestyle sambil kayang, senam kaegel, nguleg sambel juga selesai kok, yang penting bikin..

Oke then, mecucu samari gue akhiri dulu lah.. Samsung galaxy nya limit batrenya... Padahal cuman minjem si kembar wiwis.. Tengkis broooh pinjemannya...

oiya, and the last but not least, this is itttt, gue dengan tampang tak berdosa menghabiskan 4 kardus makan siang.. (sebenernya cuman ngabisin 2 kotak aja sih, i'm being a little overdramatic yah, bebooohh...)